Maryam
Puasa Maryam, ibunda Nabi Isa AS, memiliki keistimewaan tersendiri. Beliau tidak hanya berpuasa dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari berbicara dengan manusia.
Keunikan puasa ini disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari perintah Ilahi yang diterima Maryam.
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًاۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّاۚ ٢٦
Artinya : Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.’(QS. Maryam: 26)
Saat Maryam kembali kepada kaumnya dengan menggendong bayi Isa, mereka pun mempertanyakannya mengenai ayah dari anak tersebut. Namun, karena sedang menjalankan puasa yang melarangnya berbicara, Maryam tidak memberikan jawaban secara lisan.
Sebagai gantinya, ia hanya menunjuk kepada bayi Isa. Atas kehendak Allah, bayi Isa pun berbicara, memberikan jawaban atas tuduhan yang ditujukan kepada ibunya.
Sebagai kesimpulan, perjalanan pensyariatan puasa dari Nabi Adam hingga umat Nabi Muhammad SAW mencerminkan evolusi spiritual dan ketaatan manusia dalam menjalankan perintah Allah.
Puasa tidak hanya menjadi ibadah yang menuntut kesabaran dan ketakwaan, tetapi juga sarana penyucian diri yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan memahami sejarahnya, umat Islam dapat lebih menghayati makna puasa sebagai bentuk ibadah yang menyempurnakan keimanan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. ***