Kamis, 27 Februari 2025 17:31

Dari Sumatera, terdapat tradisi Meugang dari Aceh yang mengundangmu untuk menyaksikan masyarakat Aceh menikmati hidangan daging bersama keluarga dan warga kurang mampu.

Selanjutnya, Tanglong merupakan salah satu tradisi khas Indonesia yang masih ada, terutama Kalimantan Selatan.

Ini adalah pertunjukan atau parade lampion untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Budaya Songkolo Patang Rupa di Sulawesi Selatan masih terus dilestarikan.

Momen ini adalah kesempatan untuk menyambut Ramadhan dengan menikmati ketan yang memiliki makna filosofis sebagai pengikat antara sesama.

2. Malam Berwarna di Mesir dengan Lampu Fanous

Meskipun terkenal sebagai negara yang mayoritas Muslim, teman-teman mungkin ingin tahu tentang tradisi Ramadhan yang khas di negara ini.

Mesir umumnya akan menghiasi bulan suci dengan menyalakan lampion berwarna-warni yang mereka sebut Fanous.

Fanous mengandung arti sebagai simbol kebersamaan dan kebahagiaan dalam menjalankan ibadah di bulan suci.

Agenda seperti ini muncul sejak Dinasti Fatimiyah sebagai seremoni menyambut pemimpin Khalifah yang datang pada hari pertama bulan.

3. Membagikan Cokelat di Kuwait

Salah satu aktivitas yang cukup khas juga berasal dari negara Kuwait.

Sebagai persiapan menyambut Ramadhan, terdapat tradisi berkumpul bersama keluarga yang menyerupai Munggahan.

Kegiatan ini juga dilengkapi dengan acara makan siang sehari sebelum bulan puasa.

Selanjutnya, saat bulan Ramadhan tiba, negara ini juga mengadakan perayaan yang istimewa.

Perayaan ini didominasi oleh anak-anak yang akan mengunjungi setiap rumah tetangga untuk mendapatkan cokelat atau makanan manis lainnya.

Bagi warga Kuwait, momen ini disebut sebagai Qarqia’an.

Qarqia’an umumnya akan berlangsung di pertengahan bulan Ramadhan selama tiga hari.

Hampir sama, perayaan ini akan kembali meramaikan suasana bahagia Ramadhan di antara keluarga-keluarga.

4. Ramadhan Meriah di Turki

Selama sebulan penuh, Turki memperingati Ramadhan dengan dentuman genderang untuk membangunkan umat Islam saat sahur.

Kegiatan ini adalah sebuah tradisi yang tetap ada sejak zaman Kesultanan Utsmaniyah.

Tujuan tersebut juga serupa, yakni untuk berfungsi sebagai penanda waktu sahur.

Saat ini, tradisi ini menjadi semakin istimewa dengan para penabuh yang memakai kostum tradisional Kesultanan Ottoman.

Dengan mengenakan kostum, para penabuh akan terus berkeliling jalanan untuk menjangkau lebih banyak keluarga agar terbangun.

Menariknya, selama waktu tersebut, penduduk Turki juga akan memberikan tip atau membagikan makanan sahur mereka kepada para penabuh.

Selain atmosfer yang ceria, saat sahur di Turki juga terasa lebih akrab berkat kemurahan hati kepada orang lain.***

1 2



Sumber:

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Penulis
Exit mobile version