Koran Mandala – Apakah benar bahwa mengirim doa untuk orang yang telah meninggal dilarang? Ustaz Adi Hidayat memberikan penjelasan.
Menurutnya, mengirim doa untuk orang yang telah meninggal tercantum dalam Kitab Adab al-Mufrad No 44 karya Imam Al Bukhari.
Kematian adalah kepastian yang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi, karena itu adalah kehendak Allah SWT.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah tindakan tersebut dilarang dalam Islam? Berikut adalah penjelasan dari Ustaz Adi Hidayat mengenai pandangan Islam tentang pengiriman doa.
“Mengenai yasin untuk orang yang telah meninggal, ada yang berpendapat bahwa haditsnya dhaif, meskipun ada juga yang menganggapnya shahih,” ungkap Ustaz Adi Hidayat.
Oleh karena itu, Ustaz Adi Hidayat memilih untuk mengikuti hadits yang tidak diperdebatkan. “Secara pribadi, jika ada hadits yang diperdebatkan, saya lebih memilih hadits yang tidak menimbulkan perdebatan,” jelasnya. Menurutnya, pilihan ini akan memberikan ketenangan dan menghindari perdebatan yang tidak perlu.
“Apa isi haditsnya? Salah satunya adalah doa,” kata Ustaz Adi. Ia menjelaskan bahwa mengirim doa untuk orang yang telah meninggal terdapat dalam Kitab Adab al-Mufrad No 44 karya Imam Al Bukhari.
Dalam konteks ini, Ustaz Adi Hidayat menyatakan bahwa kitab tersebut membahas tentang adab dan kehidupan. “Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa ketika seorang anak beristighfar dan memohon ampun kepada Allah untuk ayahnya yang telah meninggal, maka derajatnya di alam kubur akan diangkat satu tingkat,” ungkap Ustaz Adi Hidayat.