KoranMandala.com -Indeks Harga Saham Gabungan IHSG Anjlok hingga menyentuh level 6.300 pada perdagangan Jumat (28/2). Sepanjang perdagangan intraday, IHSG bahkan sempat turun hingga 6.324 atau 2,67%. Kondisi ini membuat investor semakin waspada terhadap pergerakan pasar modal Indonesia.
Aksi Jual Asing Tekan IHSG
Berdasarkan data RTI Business, nilai transaksi tercatat mencapai Rp 5,89 triliun dengan volume perdagangan sebesar 7,02 miliar saham. Sementara itu, kapitalisasi pasar hanya mencapai Rp 11.048 triliun. Tren pergerakan IHSG dalam seminggu terakhir mencatat penurunan sebesar 6,98%. Selain itu, IHSG juga mengalami koreksi hingga 10,63% secara year to date (ytd) dan merosot 10,99% dalam sebulan terakhir.
Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa tekanan terhadap IHSG disebabkan oleh aksi jual bersih atau net sell investor asing yang mencapai Rp 16,8 triliun sejak awal tahun. Hingga Kamis (27/2), aksi jual ini masih terus berlanjut, semakin membebani pergerakan IHSG.
BEI: Fluktuasi IHSG Sesuai Mekanisme Pasar
Menanggapi kondisi ini, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa pergerakan IHSG sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar. BEI tidak memiliki kapasitas untuk menganalisis fluktuasi indeks karena itu merupakan ranah analis pasar modal.
“Yang bisa dilakukan bursa adalah memastikan perdagangan berjalan secara teratur, wajar, dan efisien,” ujar Jeffrey di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/2).
Dampak Perang Dagang AS
Selain aksi jual investor asing, tekanan terhadap IHSG juga berasal dari anjloknya bursa Wall Street pada Kamis (27/2). Indeks S&P 500 turun 1,59% ke level 5.861,57, sedangkan Nasdaq Composite merosot 2,78% ke 18.544,42 akibat penurunan saham Nvidia sebesar 8,5%. Indeks Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 0,45% atau turun 193,62 poin ke 43.239,50.
Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menerapkan tarif impor 25% bagi Kanada dan Meksiko turut memperburuk kondisi pasar global. Selain itu, tarif tambahan sebesar 10% untuk barang impor asal Cina semakin meningkatkan ketidakpastian ekonomi.
Dampak Kebijakan Trump Terhadap IHSG
Pemberlakuan tarif tinggi terhadap Kanada, Meksiko, dan Cina berpotensi meningkatkan inflasi di AS. Trump menyatakan kebijakan ini bertujuan untuk membatasi perdagangan narkotika ilegal dari negara-negara tersebut ke AS.
“Obat-obatan masih mengalir ke negara kita dari Meksiko dan Kanada dalam jumlah yang sangat tinggi dan tidak dapat diterima,” tulis Trump di Truth Social pada Kamis (27/2), dikutip dari CNN International.
Akibat kebijakan ini, pasar global, termasuk Indonesia, ikut merasakan dampaknya. Saham-saham teknologi di AS mengalami tekanan, dan sentimen negatif ini merembet ke IHSG. Investor saat ini menanti langkah selanjutnya dari pemerintah dan regulator pasar untuk menjaga stabilitas pasar modal Indonesia.
Kesimpulan
IHSG yang terus mengalami penurunan menunjukkan adanya tekanan besar dari faktor eksternal dan aksi jual investor asing. Dengan perang dagang yang kembali memanas, investor perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Ke depan, pasar masih akan menghadapi tantangan yang cukup berat, terutama jika ketidakpastian global terus berlanjut.