Koran Mandala – Pemerintah Indonesia menyikapi kebijakan tarif impor Amerika Serikat dengan penuh kehati-hatian. Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor kepada 15 negara, termasuk Indonesia, karena dianggap merugikan AS.
Berbeda dengan negara maju dimana pemimpin pemerintahan tertinggi yang bicara, Indonesia hanya merespons lewat siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Dalam siaran pers itu, Menteri Koordinator Airlangga Hartarto menyebut pemerintah akan menghitung dampaknya terhadap ekonomi nasional.
USAID: Lembaga yang Terancam Pembubaran oleh Donald Trump dan Elon Musk
“Pengenaan tarif resiprokal AS berdampak pada daya saing ekspor Indonesia ke Amerika Serikat,” ujar Airlangga, Kamis 3 April 2025.
Produk ekspor utama Indonesia ke AS antara lain elektronik, tekstil, alas kaki, minyak sawit, karet, furnitur, dan hasil perikanan.
Pemerintah akan menyiapkan langkah strategis untuk meredam dampak negatif perang dagang terhadap perekonomian nasional.
Airlangga menyebut pemerintah akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas valas melalui koordinasi dengan BI.
“Pemerintah menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN) di tengah gejolak pasar keuangan global,” katanya menegaskan.
Selain itu, pemerintah juga sedang menyiapkan langkah negosiasi dengan AS terkait laporan National Trade Estimate (NTE) 2025.
Presiden Prabowo telah menginstruksikan jajarannya untuk mempercepat perbaikan struktural dan kebijakan deregulasi nasional.
Pemerintah akan menyederhanakan berbagai regulasi dan menghapus hambatan non-tarif yang tidak sesuai dengan standar global.